Desember, tepatnya tanggal 22 Desember kita merayakan hari Ibu...
Tak ada kata yang dapat melukiskan bagaimana jasa seorang ibu yang membesarkan anak-anaknya.
Adakalanya ibu harus berperan ganda untuk menghidupi anak-anaknya. Sebagai Ibu sekaligus sebagai ayah. Namun dengan semangat yang kuat untuk membahagiakan anak-anaknya, ibu dengan ikhlas dan kebesaran hati mau memberikan yang terbaik bagi anaknya.
Rela menderita demi kebahagiaan anak-anaknya. Itulah ungkapan salah seorang ibu ketika menceritakan pengalamannya di salah satu Radio Swasta Jakarta.
Sang Ibu menuturkan, untuk membiayai sekolah anak-anaknya yang berjumlah 3 (tiga) orang, ia berjualan apa saja asal halal dan menghasilkan duit untuk biaya bulanan sang anak.
Pernah juga penulis mendengar cerita dari seorang anak yang ibunya sampai menjual rumah satu-satunya sebagai naungan mereka dari hujan dan teriknya panas matahari untuk biaya kuliah sang anak.
Sang ibu mengontrak rumah yang lebih kecil karena ia hanya tinggal berdua dengan anaknya. Suaminya telah "pergi" terlebih dahulu. Praktis setelah sang suami pergi, sang ibu yang menjadi kepala keluarga yang bertangung jawab membesarkan anak semata wayangnya. Tidak hanya membesarkan, papar sang ibu, tetapi juga menyekolahkan sehingga berhasil, berhasil menjadi orang yang berguna dan tentu saja menjadi anak yang sholeha..paparnya kemudian.
Alhamdulillah, kini sang anak telah berhasil, dan sang anak membalas jasa sang ibu dengan mempersembahkan sebuah rumah yang cukup besar dan menaikan haji sang bunda.
Namun balas jasa sang anak tak akan mampu membayar pengorbanan sang ibu yang tidak saja dalam bentuk materi tetapi juga kasih sayang, cucuran keringat dan air mata. Rasanya itu yang pantas memaparkan hadits :
"Surga berada di bawah telapak kaum ibu. Barangsiapa dikehendakinya maka dimasukannya, dan barangsiapa dikehendaki maka dikeluarkan darinya." (HR. Ibnu Adi)
Marah, sudah barang tentu akan ada dalam masa mengasuh buah hati. Marah, ngomel kepada anak-anaknya bahkan terkadang terimbas pada sang suami. Marah adalah perasaan yang diungkapkan oleh si Ibu karena rasa sayangnya kepada buah hati.
Marah karena anak yang ga mau makan seharian, marah karena anak-anaknya ga mau nurut apa kata sang bunda.
Setelah besar seperti saat sekarang ini, penulis baru menyadari bahwa larangan, marahnya bunda kepada penulis karena memang hal tersebut merupakan bentuk kasih sayang bunda kepada penulis. Bunda marah karena penulis tidak sarapan pagi, padahal penulis ada sakit maag. pantas rasanya bunda marah, karena kalau anak sakit yang repot adalah bunda (orangtua), yang tidak tidur adalah bunda.
Bunda....betapapun kami telah mencoba balas jasa kepada-mu, namun apa yang kami buat terhadap mu tidak akan mampu membalas jasa-jasamu yang telah memberikan yang terbaik untuk nnak-Anak-mu
Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Buraidah dari bapaknya bahwa ada seorang lelaki yang sedang thawaf sambil menggendong ibunya, lalu dia bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: " Apakah dengan ini saya sudah menunaikan haknya?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Belum! Walaupun secuil".
Selamat hari ibu......
Bagi seluruh ibu-ibu di dunia....pengorbana nmu sungguh tak ternilai....
wassalam
Kamis, 24 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar