Kamis, 24 April 2008

Kalung Mutiaraku


Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia lima tahun.Pada suatu
sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket.
Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil
berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik.
Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya.

Tapi... Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke
supermarket dia sudah berjanji t ida k akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk
dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik.

Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya "Ibu, bolehkah Anisa memiliki
kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi..." Sang Bunda segera mengambil kotak
kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang
memandangnya dengan penuh harap dan cemas.

Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap t ida k
konsisten... "Oke ... Anisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang
kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong
uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju?"
Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke-raknya.
"Terimakasih..., Ibu"
Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya
nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari
lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang.
Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau...
Setiap malam sebelum tidur, Ayah Anisa akan membacakan cerita pengantar tidur.
Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya:
"Anisa..., Anisa sayang ngga sama Ayah?"
"Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah!"
"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu..."
"Yah..., jangan dong Ayah! Ayah boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari nenek...!
Itu kesayanganku juga"
"Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa!". Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar
Anisa. Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi:
"Anisa..., Anisa sayang nggak sih, sama Ayah?"
"Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah?". "Kalau begitu, berikan
pada Ayah kalung mutiaramu."
"Jangan Ayah... Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini." Kata Anisa
seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain. Beberapa malam
kemudian, ketika Ayah masuk kekamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya.
Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam
di atas pangkuan. Dari matanya, mengalir bulir-bulir air mata membasahi pipinya...
" Ada apa Anisa, kenapa Anisa?"
Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik
kalung mutiara kesayangannya" Kalau Ayah mau... ambillah kalung Anisa" Ayah tersenyum
mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa.
Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan
sebentuk kalung mutiara putih... sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa..
"Anisa... ini untuk Anisa. Sama bukan? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini t ida k akan
membuat lehermu menjadi hijau"
Ya..., ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara
imitasi Anisa.

KONKLUSI:
Demikian pula halnya dengan Allah SWT. Terkadang Dia meminta sesuatu dari kita,
karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik.
Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa :
Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya
t ida k ikhlas bila harus kehilangan

Tidak ada komentar: