Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya
pada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya
menjawab, "Sebab, aku wanita". "Aku tak mengerti," kata si
anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat.
"Nak, kamu memang tak akan mengerti...."
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa
Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang
jelas? Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis
tanpa ada alasan." Hanya itu jawaban yang bisa diberikan
ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap
bertanya-tanya,mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan
"Ya Tuhan,
mengapa wanita mudah sekali menangis? Dalam mimpinya,
Tuhan menjawab,
"Saat Kuciptakan wanita, aku membuatnya menjadi sangat
utama.
Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia
dan isinya,walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan
lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan pada wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan
mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula,
ia kerap menerima cerca dari anaknya....
Kuberikan pada wanita keperkasaan, yang akan membuatnya
tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah
putus asa. Kuberikan pada wanita kesabaran, untuk merawat
keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa
berkeluh kesah..
Kuberikan pada wanita, perasaan peka dan kasih sayang,
untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan
dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu
melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula
yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang
terkantuk menahan lelap dan sentuhan kasih sayangnya akan
memberikan kenyamanan saat didekapdengan lembut olehnya.
Kuberikan pada wanita! kekuatan untuk membimbing suaminya,
melalui masa-masa sulit, dan m enjadi pelindung baginya.
Sebab, bukankah tulang rusuk yang melindungi setiap hati
dan jantung agar tak terkoyak? Kuberikan pada wanita
kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian
dan menyadarkan bahwa, suami yang baik adalah yang tak
pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula,
kebijaksanaan itu akan
menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap
berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi
Dan, akhirnya, kuberikan pada wanita airmata agar dapat
mencurahkan perasaannya.
Inilah yang khusus kuberikan kepadanya, agar dapat
digunakan kapanpun ia inginkan.
Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun
sebenarnya, airmata ini adalah airmata kehidupan....
Kamis, 01 Mei 2008
Selasa, 29 April 2008
Kebohongan Seorang Ibu
8 Kebohongan Seorang Ibu…………
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata:
"Makanlah nak, Ibu tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika aku mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, Ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku.
Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata:
"Makanlah Nak, Ibu tidak suka makan ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel. Dari hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata:
"Cepatlah tidur nak, Ibu tidak Capek" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, Ibu yang tegar dan gigih menungguku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk Ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata:
"Minumlah nak, Ibu tidak haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap Sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, Dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kami pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat Kondisi keluarga yang semakin parah, Ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk Menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, Ibu berkata:
"Saya tidak butuh cinta" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
Setelah aku dan kakakku semuanya bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau , Ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang Tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata:
"Ibu masih punya uang" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian Memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika. Berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, Ibu berkata kepadaku
"Ibu tidak terbiasa" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit Kanker Lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang Samudera Atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk Ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya Setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menggerogoti tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti Ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata:
"Jangan menangis anakku, Ibu tidak sakit" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : "Terima kasih Ibu"
Coba dipikir-pikir, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita?
Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita?
Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian.
Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum?
Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum?
Apakah ini benar?
Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata:
"Makanlah nak, Ibu tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika aku mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, Ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku.
Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata:
"Makanlah Nak, Ibu tidak suka makan ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel. Dari hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata:
"Cepatlah tidur nak, Ibu tidak Capek" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, Ibu yang tegar dan gigih menungguku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk Ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata:
"Minumlah nak, Ibu tidak haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap Sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, Dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kami pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat Kondisi keluarga yang semakin parah, Ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk Menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, Ibu berkata:
"Saya tidak butuh cinta" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
Setelah aku dan kakakku semuanya bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau , Ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang Tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata:
"Ibu masih punya uang" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian Memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika. Berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, Ibu berkata kepadaku
"Ibu tidak terbiasa" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit Kanker Lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang Samudera Atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk Ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya Setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menggerogoti tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti Ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata:
"Jangan menangis anakku, Ibu tidak sakit" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : "Terima kasih Ibu"
Coba dipikir-pikir, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita?
Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita?
Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian.
Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum?
Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum?
Apakah ini benar?
Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.
Kearifan Penjual Kue Pukis
Perlahan tangan kekar itu menuangkan adonan kue ke loyang kue yang beruas-ruas. Setelah rata dan semua ruas terisi, sebelah tangan lainnya mengambil penutup loyang dan meletakan di atasnya rapat-rapat.
Beberapa menit kemudian, ia kembali membuka penutupnya dan mulai mengangkat satu persatu kue yang sudah masak dengan pengungkit kecil, satu, dua, tiga dan seterusnya seraya memindahkan kue-kue itu ke tempat khusus yang sudah disediakan.
Di sebelah lelaki itu, seorang perempuan anggun bersanding. Lihai gerak tangannya bermain dengan sebilah capit, seperti sudah terlatih bertahun-tahun menggunakan alat tersebut. Tangan kirinya memegang plastik transparan ukuran setengah kilogram, dengan capit di tangan kanannya ia memasukkan serta menyusun kue-kue ukuran kecil itu.
Terakhir, kedua tangannya melipat dan merekatkan ujung plastik dengan stepler. Tumpukan kue pukis yang sudah tersusun rapih itu tinggal menunggu berpindah tangan kepada para pembelinya.
Begitulah setiap sore hingga malam dua pasang tangan lihai bekerja, mulai dari membuat adonan kue, memasaknya, hingga menjualnya. Mereka terlihat akrab, bahkan mesra dalam kadar sewajarnya, sesekali tangan perempuan itu mengambil sehelai lap bersih untuk membasuh peluh di kening lelaki di sisinya. Kadang, si lelaki berganti menggoda makhluk manis di sebelahnya, sekadar untuk memelihara semangat berjualan di antara mereka berdua.
Setiap sore atau malam, sepulang kerja saya melewati sepasang suami isteri yang berjualan kue pukis itu. Ia menetap di sebuah rumah kontrakan kecil di tepi jalan Cinangka, Sawangan, Depok. Di depan kontrakannya itulah mereka menaruh harapan rezekinya, di meja berukuran 1 x 1, 5 meter, dan sebuah kompor yang di atasnya terletak loyang kue pukis.
Suatu hari, saya membeli kuenya. Mereka sudah cukup hafal dengan motor yang saya tumpangi, juga cukup familiar dengan kalimat pertama yang terucap ketika saya membuka helm, “Assalaamu’alaikum…” Ceria, ramah, dan penuh senyum. Itulah wajah keseharian keduanya setiap kali saya singgah.
Malam itu, “Tiga bungkus ya…” satu untuk di rumah, dua bungkus lagi untuk penjaga keamanan di komplek tempat tinggal saya. Saya sering merasa harus berterima kasih kepada banyak orang dalam menjalani kehidupan, tidak terkecuali para penjaga keamanan di komplek. Meski pun hanya sebatas makanan kecil yang kerap saya bawakan setiap kali melewati pintu gerbang.
Tiga bungkus kue di tangan, saya pun menyodorkan selembar uang duapuluh ribuan, sedangkan harga tiga bungkus kue itu sebesar sembilan ribu rupiah. Satu menit, dua menit, sampai lima menit, lelaki penjual kue itu mencari-cari uang seribu rupiah, sementara yang sepuluh ribunya sudah di tangannya.
Saya melihat gelagat tak tersedia uang seribu rupiah itu, “Sudah pak, biar saja kembaliannya cukup sepuluh ribu saja.” Sontak isterinya menjawab, “Wah, nggak bisa. Ini korupsi namanya. Kami tidak mau mengambil hak orang lain”.
“Lho, saya kan ikhlas…” tak mau kalah saya. “Kalau begitu, terima ini….” Perempuan itu menyodorkan beberapa kue yang telah dimasukkannya ke dalam plastik, kira-kira pas untuk harga seribu rupiah.
Saya kembalikan kue itu, kemudian ia memaksa bahkan menjejalkan kue itu ke dalam helm saya. Lalu saya kembalikan lagi kuenya, “terima kasih, tapi saya ikhlas. Hanya seribu rupiah kok…” “Benar ikhlas?” Saya mengangguk, wanita itu pun menyerah seraya menengok kepada suaminya. Sang suami pun mengangguk.
Subhanallah. Seribu rupiah membuat seseorang begitu takut dianggap mengambil hak orang lain. Seribu rupiah begitu mengerikan di mata sepasang penjual kue pukis. Dan meski hanya seribu rupiah, tak mau ia mengambil sesuatu yang bukan haknya. Allah telah memberi nasihat langsung melalui penjual kue pukis. Motor pun melaju tenang, namun tak terasa bulir air bening meleleh di sudut mata ini. Astaghfirullahal adziim…
(Gaw, penikmat kue pukis)
Sumber : Oase iman from Eramuslim
Beberapa menit kemudian, ia kembali membuka penutupnya dan mulai mengangkat satu persatu kue yang sudah masak dengan pengungkit kecil, satu, dua, tiga dan seterusnya seraya memindahkan kue-kue itu ke tempat khusus yang sudah disediakan.
Di sebelah lelaki itu, seorang perempuan anggun bersanding. Lihai gerak tangannya bermain dengan sebilah capit, seperti sudah terlatih bertahun-tahun menggunakan alat tersebut. Tangan kirinya memegang plastik transparan ukuran setengah kilogram, dengan capit di tangan kanannya ia memasukkan serta menyusun kue-kue ukuran kecil itu.
Terakhir, kedua tangannya melipat dan merekatkan ujung plastik dengan stepler. Tumpukan kue pukis yang sudah tersusun rapih itu tinggal menunggu berpindah tangan kepada para pembelinya.
Begitulah setiap sore hingga malam dua pasang tangan lihai bekerja, mulai dari membuat adonan kue, memasaknya, hingga menjualnya. Mereka terlihat akrab, bahkan mesra dalam kadar sewajarnya, sesekali tangan perempuan itu mengambil sehelai lap bersih untuk membasuh peluh di kening lelaki di sisinya. Kadang, si lelaki berganti menggoda makhluk manis di sebelahnya, sekadar untuk memelihara semangat berjualan di antara mereka berdua.
Setiap sore atau malam, sepulang kerja saya melewati sepasang suami isteri yang berjualan kue pukis itu. Ia menetap di sebuah rumah kontrakan kecil di tepi jalan Cinangka, Sawangan, Depok. Di depan kontrakannya itulah mereka menaruh harapan rezekinya, di meja berukuran 1 x 1, 5 meter, dan sebuah kompor yang di atasnya terletak loyang kue pukis.
Suatu hari, saya membeli kuenya. Mereka sudah cukup hafal dengan motor yang saya tumpangi, juga cukup familiar dengan kalimat pertama yang terucap ketika saya membuka helm, “Assalaamu’alaikum…” Ceria, ramah, dan penuh senyum. Itulah wajah keseharian keduanya setiap kali saya singgah.
Malam itu, “Tiga bungkus ya…” satu untuk di rumah, dua bungkus lagi untuk penjaga keamanan di komplek tempat tinggal saya. Saya sering merasa harus berterima kasih kepada banyak orang dalam menjalani kehidupan, tidak terkecuali para penjaga keamanan di komplek. Meski pun hanya sebatas makanan kecil yang kerap saya bawakan setiap kali melewati pintu gerbang.
Tiga bungkus kue di tangan, saya pun menyodorkan selembar uang duapuluh ribuan, sedangkan harga tiga bungkus kue itu sebesar sembilan ribu rupiah. Satu menit, dua menit, sampai lima menit, lelaki penjual kue itu mencari-cari uang seribu rupiah, sementara yang sepuluh ribunya sudah di tangannya.
Saya melihat gelagat tak tersedia uang seribu rupiah itu, “Sudah pak, biar saja kembaliannya cukup sepuluh ribu saja.” Sontak isterinya menjawab, “Wah, nggak bisa. Ini korupsi namanya. Kami tidak mau mengambil hak orang lain”.
“Lho, saya kan ikhlas…” tak mau kalah saya. “Kalau begitu, terima ini….” Perempuan itu menyodorkan beberapa kue yang telah dimasukkannya ke dalam plastik, kira-kira pas untuk harga seribu rupiah.
Saya kembalikan kue itu, kemudian ia memaksa bahkan menjejalkan kue itu ke dalam helm saya. Lalu saya kembalikan lagi kuenya, “terima kasih, tapi saya ikhlas. Hanya seribu rupiah kok…” “Benar ikhlas?” Saya mengangguk, wanita itu pun menyerah seraya menengok kepada suaminya. Sang suami pun mengangguk.
Subhanallah. Seribu rupiah membuat seseorang begitu takut dianggap mengambil hak orang lain. Seribu rupiah begitu mengerikan di mata sepasang penjual kue pukis. Dan meski hanya seribu rupiah, tak mau ia mengambil sesuatu yang bukan haknya. Allah telah memberi nasihat langsung melalui penjual kue pukis. Motor pun melaju tenang, namun tak terasa bulir air bening meleleh di sudut mata ini. Astaghfirullahal adziim…
(Gaw, penikmat kue pukis)
Sumber : Oase iman from Eramuslim
Senin, 28 April 2008
Kisah Kepiting
Beberapa tahun yang lalu, kalau tidak salah tahun 2000, saya berkunjung ke kota Pontianak, teman saya disana mengajak saya memancing Kepiting. Bagaimana cara memancing Kepiting?
Kami menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke batang bambu itu, diujung lain tali itu kami mengikat sebuah batu kecil. Lalu kami mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun menuju Kepiting
yang kami incar, kami mengganggu Kepiting itu dengan batu, menyentak dan menyentak agar Kepiting marah, dan kalau itu berhasil maka Kepiting itu akan 'menggigit' tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga kami leluasa mengangkat bambu dengan ujung tali berisi seekor Kepiting gemuk yang sedang marah.
Kami tinggal mengayun perlahan bambu agar ujung talinya menuju sebuah wajan besar yang sudah kami isi dengan air mendidih karena di bawah wajan itu ada sebuah kompor dengan api yang sedang menyala. Kami celupkan Kepiting yang sedang murka itu ke dalam wajan tersebut, seketika Kepiting melepaskan gigitan dan tubuhnya menjadi merah, tak lama kemudian kami bisa menikmati Kepiting Rebus yang sangat lezat.
Kepiting itu menjadi korban santapan kami karena kemarahannya, karena kegeramannya atas gangguan yang kami lakukan melalui sebatang bambu, seutas tali dan sebuah batu kecil. Kita sering sekali melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan, menghadapi masalah, kehilangan peluang, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan segalanya karena : MARAH .
Jadi kalau anda menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, lakukan penundaan dua tiga detik dengan menarik napas panjang, kalau perlu pergilah ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, agar murka anda mereda dan anda terlepas dari ancaman wajan panas yang bisa menghancurkan masa depan anda.
Nothing Great in the World has ever been accomplished without PASSION
~ Keep Amar Ma'ruf Nahi Munkar on the Net, euy! ~
Kami menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke batang bambu itu, diujung lain tali itu kami mengikat sebuah batu kecil. Lalu kami mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun menuju Kepiting
yang kami incar, kami mengganggu Kepiting itu dengan batu, menyentak dan menyentak agar Kepiting marah, dan kalau itu berhasil maka Kepiting itu akan 'menggigit' tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga kami leluasa mengangkat bambu dengan ujung tali berisi seekor Kepiting gemuk yang sedang marah.
Kami tinggal mengayun perlahan bambu agar ujung talinya menuju sebuah wajan besar yang sudah kami isi dengan air mendidih karena di bawah wajan itu ada sebuah kompor dengan api yang sedang menyala. Kami celupkan Kepiting yang sedang murka itu ke dalam wajan tersebut, seketika Kepiting melepaskan gigitan dan tubuhnya menjadi merah, tak lama kemudian kami bisa menikmati Kepiting Rebus yang sangat lezat.
Kepiting itu menjadi korban santapan kami karena kemarahannya, karena kegeramannya atas gangguan yang kami lakukan melalui sebatang bambu, seutas tali dan sebuah batu kecil. Kita sering sekali melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan, menghadapi masalah, kehilangan peluang, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan segalanya karena : MARAH .
Jadi kalau anda menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, lakukan penundaan dua tiga detik dengan menarik napas panjang, kalau perlu pergilah ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, agar murka anda mereda dan anda terlepas dari ancaman wajan panas yang bisa menghancurkan masa depan anda.
Nothing Great in the World has ever been accomplished without PASSION
~ Keep Amar Ma'ruf Nahi Munkar on the Net, euy! ~
Minggu, 27 April 2008
Pengingatku...........
Assalamu'alaikum Wr Wb.
Blog ini bagi saya adalah sebuah pengingat, pengingat di kala lengah, pengingat di kala letih, pengingat di kala kumerasa jauh dengan _Nya. Alhamdulillah setelah mengikuti milis sobat-azzam, banyak artikel bagus yang dapat menyentuh hati ku yang rindu dengan tausiah-tausiah Orang Tua, Ustadz & Ustadzah, teman, saudara. Semoga dengan sering ku membuka blog ini, semakin sering ku mengingat tentang kebenaran dan berusaha meninggalkan kebatilan, Amien
Jazakillah
Wassalamu'alaikum Wr Wb
Blog ini bagi saya adalah sebuah pengingat, pengingat di kala lengah, pengingat di kala letih, pengingat di kala kumerasa jauh dengan _Nya. Alhamdulillah setelah mengikuti milis sobat-azzam, banyak artikel bagus yang dapat menyentuh hati ku yang rindu dengan tausiah-tausiah Orang Tua, Ustadz & Ustadzah, teman, saudara. Semoga dengan sering ku membuka blog ini, semakin sering ku mengingat tentang kebenaran dan berusaha meninggalkan kebatilan, Amien
Jazakillah
Wassalamu'alaikum Wr Wb
Dua Serigala
*KotaSantri.com :* Ada dua ekor serigala di hutan belantara, serigala B menantang serigala A untuk menangkap seekor kelinci yang sedang makan wortel, tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Ayo Serigala A, kamu bisa ngga tangkap kelinci itu?" tanya serigala B.
"Ah, itu gampang, lihat saja nih!" Jawab serigala A, dan dengan sigap serigala A itu pun melompat ke arah kelinci tersebut, dan berlari mengejarnya.
Sedangkan kelinci yang melihat serigala itu, langsung lari terbirit-birit ketakutan, tanpa pikir panjang wortel yang masih dikunyahnya di lemparkan ke arah serigala tersebut, "DUAAAKK!!!" begitu suaranya. Karena serigala adalah binatang yang kuat, maka wortel kecil yang mengenai kepalanya tidak terasa sama sekali, serigala tersebut tetap mengejar kelinci itu, 1 menit.. 2 menit.. 3 menit.. sampai 5 menit.
Serigala itu belum dapat menangkap kelinci itu, karena kelinci itu larinya lebih kencang. Serigala itu pun kelelahan, dan menghentikan pengejarannya. Dengan perasaan yang sangat malu, dia menunduk berjalan dan kembali ke temannya serigala B.
Setelah sampai di tempat serigala B, maka serigala B itu pun bertanya,
"Bagaimana? Apakah kamu bisa menangkapnya?" Tanya serigala B, lalu serigala A hanya menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih tertunduk. Serigala B lalu melanjutkan perkataanya : "Kamu tahu, kenapa kamu tidak bisa menangkap kelinci itu? Kamu kalah, karena kamu tidak serius. Kamu berlari mengejar kelinci hanya untuk pamer saja, sedangkan kelinci itu berlari untuk nyawanya."
***
Untuk orang yang sudah bekerja, mungkin Anda merasa, Anda sangat lelah, Anda capai dengan pekerjaan, bosan, tidak ada kemajuan sama sekali dalam pekerjaan Anda. Itu dikarenakan karena Anda tidak serius dengan pekerjaan Anda.
Cobalah pikirkan kembali, apakah tujuan sebenarnya Anda bekerja? Sebab, terkadang ada orang yang bekerja, karena tuntutan orang tua agar mencari uang sendiri, atau kadang juga ada orang yang bekerja, karena mereka merasa 'harus' bekerja untuk membantu orang tua mereka menghidupi keluarganya, atau ada juga orang yang bekerja karena untuk dapat pamer pada teman-temannya, pada sanak saudara, bahwa dia sudah bekerja.
Jadi, apakah tujuan Anda bekerja? Demi rasa bangga pada serigala B. Atau demi rasa lapar?* (Gundolo Sosro)*
~ Keep Amar Ma'ruf Nahi Munkar on the Net, euy! ~
"Ayo Serigala A, kamu bisa ngga tangkap kelinci itu?" tanya serigala B.
"Ah, itu gampang, lihat saja nih!" Jawab serigala A, dan dengan sigap serigala A itu pun melompat ke arah kelinci tersebut, dan berlari mengejarnya.
Sedangkan kelinci yang melihat serigala itu, langsung lari terbirit-birit ketakutan, tanpa pikir panjang wortel yang masih dikunyahnya di lemparkan ke arah serigala tersebut, "DUAAAKK!!!" begitu suaranya. Karena serigala adalah binatang yang kuat, maka wortel kecil yang mengenai kepalanya tidak terasa sama sekali, serigala tersebut tetap mengejar kelinci itu, 1 menit.. 2 menit.. 3 menit.. sampai 5 menit.
Serigala itu belum dapat menangkap kelinci itu, karena kelinci itu larinya lebih kencang. Serigala itu pun kelelahan, dan menghentikan pengejarannya. Dengan perasaan yang sangat malu, dia menunduk berjalan dan kembali ke temannya serigala B.
Setelah sampai di tempat serigala B, maka serigala B itu pun bertanya,
"Bagaimana? Apakah kamu bisa menangkapnya?" Tanya serigala B, lalu serigala A hanya menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih tertunduk. Serigala B lalu melanjutkan perkataanya : "Kamu tahu, kenapa kamu tidak bisa menangkap kelinci itu? Kamu kalah, karena kamu tidak serius. Kamu berlari mengejar kelinci hanya untuk pamer saja, sedangkan kelinci itu berlari untuk nyawanya."
***
Untuk orang yang sudah bekerja, mungkin Anda merasa, Anda sangat lelah, Anda capai dengan pekerjaan, bosan, tidak ada kemajuan sama sekali dalam pekerjaan Anda. Itu dikarenakan karena Anda tidak serius dengan pekerjaan Anda.
Cobalah pikirkan kembali, apakah tujuan sebenarnya Anda bekerja? Sebab, terkadang ada orang yang bekerja, karena tuntutan orang tua agar mencari uang sendiri, atau kadang juga ada orang yang bekerja, karena mereka merasa 'harus' bekerja untuk membantu orang tua mereka menghidupi keluarganya, atau ada juga orang yang bekerja karena untuk dapat pamer pada teman-temannya, pada sanak saudara, bahwa dia sudah bekerja.
Jadi, apakah tujuan Anda bekerja? Demi rasa bangga pada serigala B. Atau demi rasa lapar?* (Gundolo Sosro)*
~ Keep Amar Ma'ruf Nahi Munkar on the Net, euy! ~
Berapa Lama Kita Dikubur ?
Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.
Baju merahnya yang Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan Kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya Untuk dicicipi, Sementara tangan kirinya mencengkram Ika tan sabuk celana ayahnya.
Yani Dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, Berputar sejenak ke kanan & Kemudian duduk Di atas seonggok nisan
"Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915:20- 01-1965"
"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya Yang mengangkat ke atas Dan ikut memejamkan Mata Seperti Ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk Neneknya...
"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah."
Ayahnya mengangguk sembari tersenyum Sembari memandang pusara Ibu-nya.
"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya yah..." Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang Dan Jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun ... "
Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak Kuburan di sana .
Di samping kuburan neneknya Ada Kuburan tua berlumut
"Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910"
"Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun Yang lalu ya yah" jarinya menunjuk nisan disamping Kubur neneknya.
Sekali lagi ayahnya mengangguk.
Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.
"Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap Teduh Mata anaknya.
"Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau Kita mati, lalu di kubur Dan Kita banyak dosanya, Kita akan disiksa di neraka" kata Yani sambil meminta Persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"
Ayahnya tersenyum, "Lalu?" "Iya .. Kalau nenek banyak Dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun *** yah Di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang di kubur .... Ya nggak yah?" Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.
Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya Berkerut, tampaknya cemas ..... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.
Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan Anaknya ... 42 tahun ... Hingga sekarang...kalau kiamat Datang 100 tahun lagi ....142 tahun disiksa ...
Atau bahagia Di kubur .... Lalu IA menunduk ... Meneteskan air Mata ...
Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya ...lalu kiamat Masih 1000 tahun lagi berarti IA akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji'un ... Air matanya semakin banyak Menetes.....
Sanggupkah IA selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan ..kalau 2000 tahun lagi?
Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu IA akan disiksa di kubur ..
Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi? Tahankah?
Padahal melihat adegan preman dipukuli Massa ditelevisi kemarin Ia Sudah tak tahan?
Ya Allah ...IA semakin menunduk .. Tangannya Terangkat keatas..bahunya naik Turun tak teratur....
Air matanya semakin Membanjiri jenggotnya .....
Allahumma as aluka khusnul khootimah berulang Kali di bacanya DOA itu Hingga suaranya serak ...
Dan IA berhenti sejenak Ketika Terdengar batuk Yani.
Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu.... Dibetulkannya Selimutnya.
Yani terus Tertidur.... tanpa tahu, Betapa sang bapak sangat Berterima kasih padanya karena telah Menyadarkannya ..
Arti Sebuah Kehidupan... Dan apa yang akan datang di Depannya...
Sebarkan e-mail ini ke saudara-saudara Kita,
mudah-mudahan bermanfaat.. .
Baju merahnya yang Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan Kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya Untuk dicicipi, Sementara tangan kirinya mencengkram Ika tan sabuk celana ayahnya.
Yani Dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, Berputar sejenak ke kanan & Kemudian duduk Di atas seonggok nisan
"Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915:20- 01-1965"
"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya Yang mengangkat ke atas Dan ikut memejamkan Mata Seperti Ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk Neneknya...
"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah."
Ayahnya mengangguk sembari tersenyum Sembari memandang pusara Ibu-nya.
"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya yah..." Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang Dan Jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun ... "
Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak Kuburan di sana .
Di samping kuburan neneknya Ada Kuburan tua berlumut
"Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910"
"Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun Yang lalu ya yah" jarinya menunjuk nisan disamping Kubur neneknya.
Sekali lagi ayahnya mengangguk.
Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.
"Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap Teduh Mata anaknya.
"Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau Kita mati, lalu di kubur Dan Kita banyak dosanya, Kita akan disiksa di neraka" kata Yani sambil meminta Persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"
Ayahnya tersenyum, "Lalu?" "Iya .. Kalau nenek banyak Dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun *** yah Di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang di kubur .... Ya nggak yah?" Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.
Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya Berkerut, tampaknya cemas ..... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.
Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan Anaknya ... 42 tahun ... Hingga sekarang...kalau kiamat Datang 100 tahun lagi ....142 tahun disiksa ...
Atau bahagia Di kubur .... Lalu IA menunduk ... Meneteskan air Mata ...
Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya ...lalu kiamat Masih 1000 tahun lagi berarti IA akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji'un ... Air matanya semakin banyak Menetes.....
Sanggupkah IA selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan ..kalau 2000 tahun lagi?
Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu IA akan disiksa di kubur ..
Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi? Tahankah?
Padahal melihat adegan preman dipukuli Massa ditelevisi kemarin Ia Sudah tak tahan?
Ya Allah ...IA semakin menunduk .. Tangannya Terangkat keatas..bahunya naik Turun tak teratur....
Air matanya semakin Membanjiri jenggotnya .....
Allahumma as aluka khusnul khootimah berulang Kali di bacanya DOA itu Hingga suaranya serak ...
Dan IA berhenti sejenak Ketika Terdengar batuk Yani.
Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu.... Dibetulkannya Selimutnya.
Yani terus Tertidur.... tanpa tahu, Betapa sang bapak sangat Berterima kasih padanya karena telah Menyadarkannya ..
Arti Sebuah Kehidupan... Dan apa yang akan datang di Depannya...
Sebarkan e-mail ini ke saudara-saudara Kita,
mudah-mudahan bermanfaat.. .
Kamis, 24 April 2008
Kalung Mutiaraku

Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia lima tahun.Pada suatu
sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket.
Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil
berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik.
Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya.
Tapi... Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke
supermarket dia sudah berjanji t ida k akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk
dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik.
Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya "Ibu, bolehkah Anisa memiliki
kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi..." Sang Bunda segera mengambil kotak
kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang
memandangnya dengan penuh harap dan cemas.
Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap t ida k
konsisten... "Oke ... Anisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang
kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong
uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju?"
Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke-raknya.
"Terimakasih..., Ibu"
Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya
nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari
lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang.
Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau...
Setiap malam sebelum tidur, Ayah Anisa akan membacakan cerita pengantar tidur.
Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya:
"Anisa..., Anisa sayang ngga sama Ayah?"
"Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah!"
"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu..."
"Yah..., jangan dong Ayah! Ayah boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari nenek...!
Itu kesayanganku juga"
"Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa!". Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar
Anisa. Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi:
"Anisa..., Anisa sayang nggak sih, sama Ayah?"
"Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah?". "Kalau begitu, berikan
pada Ayah kalung mutiaramu."
"Jangan Ayah... Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini." Kata Anisa
seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain. Beberapa malam
kemudian, ketika Ayah masuk kekamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya.
Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam
di atas pangkuan. Dari matanya, mengalir bulir-bulir air mata membasahi pipinya...
" Ada apa Anisa, kenapa Anisa?"
Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik
kalung mutiara kesayangannya" Kalau Ayah mau... ambillah kalung Anisa" Ayah tersenyum
mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa.
Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan
sebentuk kalung mutiara putih... sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa..
"Anisa... ini untuk Anisa. Sama bukan? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini t ida k akan
membuat lehermu menjadi hijau"
Ya..., ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara
imitasi Anisa.
KONKLUSI:
Demikian pula halnya dengan Allah SWT. Terkadang Dia meminta sesuatu dari kita,
karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik.
Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa :
Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya
t ida k ikhlas bila harus kehilangan
Besarnya Penghargaan
Seorang penjual daging mengamati suasana sekitar tokonya. Ia sangat terkejut melihat seekor anjing datang ke samping tokonya. Ia mengusir anjing itu, tetapi anjing itu kembali lagi.
Maka, ia menghampiri anjing itu dan melihat ada suatu catatan di mulut anjing itu. Ia mengambil catatan itu dan membacanya, "Tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki domba. Uangnya ada di mulut anjing ini."
Si penjual daging melihat ke mulut anjing itu dan ternyata ada uang sebesar 10 dollar di sana . Segera ia mengambil uang itu, kemudian ia memasukkan sosis dan kaki domba ke dalam kantung plastik dan diletakkan kembali di mulut anjing itu. Si penjual daging sangat terkesan. Kebetulan saat itu adalah waktu tutup tokonya, ia menutup tokonya dan berjalan mengikuti si anjing.
Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan dan sampai ke tempat penyeberangan jalan. Anjing itu meletakkan kantung plastiknya, melompat dan menekan tombol penyeberangan, kemudian menunggu dengan sabar dengan kantung plastik di mulut, sambil menunggu lampu penyeberang berwarna hijau. Setelah lampu menjadi hijau, ia menyeberang sementara si penjual daging mengikutinya.
Anjing tsb kemudian sampai ke perhentian bus, dan mulai melihat "Papan informasi jam perjalanan ".
Si penjual daging terkagum-kagum melihatnya. Si anjing melihat "Papan infor! masi jam perjalanan " dan kemudian duduk disalah satu bangku yang disediakan. Sebuah bus datang, si anjing menghampirinya dan melihat nomor bus dan kemudian kembali ke tempat duduknya.
Bus lain datang. Sekali lagi bus lainnya datang. Sekali lagi si anjing menghampiri dan melihat nomor busnya. Setelah melihat bahwa bus tersebut adalah bus yang benar, si anjing naik. Si penjual daging, dengan kekagumannya mengikuti anjing itu dan naik ke bus tersebut.
Bus berjalan meninggalkan kota , menuju ke pinggiran kota . Si anjing Melihat pemandangan sekitar. Akhirnya ia bangun dan bergerak ke depan bus, ia berdiri dengan 2 kakinya ! dan menekan tombol agar bus berhenti. Kemudian ia keluar, kantung plas tik masih tergantung di mulutnya.
Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan sambil dikuti si penjual daging. Si anjing berhenti pada suatu rumah, ia berjalan menyusuri jalan kecil dan meletakkan kantung plastik pada salah satu anak tangga.
Kemudian, ia mundur, berlari dan membenturkan dirinya ke pintu. Ia mundur, dan kembali membenturkan dirinya ke pintu rumah tsb. Tidak ada jawaban dari dalam rumah, jadi si anjing kembali melalui jalan kecil, melompati tembok kecil dan berjalan sepanjang batas kebun tersebut. Ia menghampiri jendela dan membenturkan kepalanya beberapa kali, berjalan mundur, melompat balik da menunggu di pintu.
Si penjual daging melihat seorang pria tinggi besar membuka pintu dan mulai menyiksa anjing tersebut, menendangnya, memukulinya, serta menyumpahinya.
Si penjual daging ber! lari untuk menghentikan pria tersebut, "Apa yang kau lakukan ..? Anjing ini adalah anjing yg jenius. Ia bisa masuk televisi untuk kejeniusannya. "
Pria itu menjawab, "Kau katakan anjing ini pintar ...? Dalam minggu ini sudah dua kali anjing bodoh ini lupa membawa kuncinya ..!"
Mungkin hal serupa pernah terjadi dalam kehidupan Anda. Sesuatu yang bagi Anda kurang memuaskan, mungkin adalah sesuatu yang sangat luar biasa bagi orang lain.
Yang membedakan hanyalah seberapa besar penghargaan kita. Pemilik anjing tidak menghargai kemampuan si anjing dan hanya terfokus pada kesalahannya semata, sehingga menganggapnya anjing yang bodoh. Sebaliknya, sang pemilik toko menganggap anjing tersebut luar biasa pintarnya karena mampu berbelanja sendirian.
Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa setiap harinya kita menghadapi pilihan yang sama. Kita punya dua pilihan dalam menghadapi hidup ini, apakah hendak mengeluh atas berbagai hal yang kurang memuaskan, atau bersyukur atas berbagai karunia yang telah kita terima.
Semuanya terpulang pada diri Anda sendiri.
Tuhan telah mengkaruniai Anda dengan 86.400 detik per hari. Sudah adakah yang Anda gunakan untuk mengucap syukur?
::William A. Ward ::
Maka, ia menghampiri anjing itu dan melihat ada suatu catatan di mulut anjing itu. Ia mengambil catatan itu dan membacanya, "Tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki domba. Uangnya ada di mulut anjing ini."
Si penjual daging melihat ke mulut anjing itu dan ternyata ada uang sebesar 10 dollar di sana . Segera ia mengambil uang itu, kemudian ia memasukkan sosis dan kaki domba ke dalam kantung plastik dan diletakkan kembali di mulut anjing itu. Si penjual daging sangat terkesan. Kebetulan saat itu adalah waktu tutup tokonya, ia menutup tokonya dan berjalan mengikuti si anjing.
Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan dan sampai ke tempat penyeberangan jalan. Anjing itu meletakkan kantung plastiknya, melompat dan menekan tombol penyeberangan, kemudian menunggu dengan sabar dengan kantung plastik di mulut, sambil menunggu lampu penyeberang berwarna hijau. Setelah lampu menjadi hijau, ia menyeberang sementara si penjual daging mengikutinya.
Anjing tsb kemudian sampai ke perhentian bus, dan mulai melihat "Papan informasi jam perjalanan ".
Si penjual daging terkagum-kagum melihatnya. Si anjing melihat "Papan infor! masi jam perjalanan " dan kemudian duduk disalah satu bangku yang disediakan. Sebuah bus datang, si anjing menghampirinya dan melihat nomor bus dan kemudian kembali ke tempat duduknya.
Bus lain datang. Sekali lagi bus lainnya datang. Sekali lagi si anjing menghampiri dan melihat nomor busnya. Setelah melihat bahwa bus tersebut adalah bus yang benar, si anjing naik. Si penjual daging, dengan kekagumannya mengikuti anjing itu dan naik ke bus tersebut.
Bus berjalan meninggalkan kota , menuju ke pinggiran kota . Si anjing Melihat pemandangan sekitar. Akhirnya ia bangun dan bergerak ke depan bus, ia berdiri dengan 2 kakinya ! dan menekan tombol agar bus berhenti. Kemudian ia keluar, kantung plas tik masih tergantung di mulutnya.
Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan sambil dikuti si penjual daging. Si anjing berhenti pada suatu rumah, ia berjalan menyusuri jalan kecil dan meletakkan kantung plastik pada salah satu anak tangga.
Kemudian, ia mundur, berlari dan membenturkan dirinya ke pintu. Ia mundur, dan kembali membenturkan dirinya ke pintu rumah tsb. Tidak ada jawaban dari dalam rumah, jadi si anjing kembali melalui jalan kecil, melompati tembok kecil dan berjalan sepanjang batas kebun tersebut. Ia menghampiri jendela dan membenturkan kepalanya beberapa kali, berjalan mundur, melompat balik da menunggu di pintu.
Si penjual daging melihat seorang pria tinggi besar membuka pintu dan mulai menyiksa anjing tersebut, menendangnya, memukulinya, serta menyumpahinya.
Si penjual daging ber! lari untuk menghentikan pria tersebut, "Apa yang kau lakukan ..? Anjing ini adalah anjing yg jenius. Ia bisa masuk televisi untuk kejeniusannya. "
Pria itu menjawab, "Kau katakan anjing ini pintar ...? Dalam minggu ini sudah dua kali anjing bodoh ini lupa membawa kuncinya ..!"
Mungkin hal serupa pernah terjadi dalam kehidupan Anda. Sesuatu yang bagi Anda kurang memuaskan, mungkin adalah sesuatu yang sangat luar biasa bagi orang lain.
Yang membedakan hanyalah seberapa besar penghargaan kita. Pemilik anjing tidak menghargai kemampuan si anjing dan hanya terfokus pada kesalahannya semata, sehingga menganggapnya anjing yang bodoh. Sebaliknya, sang pemilik toko menganggap anjing tersebut luar biasa pintarnya karena mampu berbelanja sendirian.
Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa setiap harinya kita menghadapi pilihan yang sama. Kita punya dua pilihan dalam menghadapi hidup ini, apakah hendak mengeluh atas berbagai hal yang kurang memuaskan, atau bersyukur atas berbagai karunia yang telah kita terima.
Semuanya terpulang pada diri Anda sendiri.
Tuhan telah mengkaruniai Anda dengan 86.400 detik per hari. Sudah adakah yang Anda gunakan untuk mengucap syukur?
::William A. Ward ::
Yang Terbaik Bagimu
Desember, tepatnya tanggal 22 Desember kita merayakan hari Ibu...
Tak ada kata yang dapat melukiskan bagaimana jasa seorang ibu yang membesarkan anak-anaknya.
Adakalanya ibu harus berperan ganda untuk menghidupi anak-anaknya. Sebagai Ibu sekaligus sebagai ayah. Namun dengan semangat yang kuat untuk membahagiakan anak-anaknya, ibu dengan ikhlas dan kebesaran hati mau memberikan yang terbaik bagi anaknya.
Rela menderita demi kebahagiaan anak-anaknya. Itulah ungkapan salah seorang ibu ketika menceritakan pengalamannya di salah satu Radio Swasta Jakarta.
Sang Ibu menuturkan, untuk membiayai sekolah anak-anaknya yang berjumlah 3 (tiga) orang, ia berjualan apa saja asal halal dan menghasilkan duit untuk biaya bulanan sang anak.
Pernah juga penulis mendengar cerita dari seorang anak yang ibunya sampai menjual rumah satu-satunya sebagai naungan mereka dari hujan dan teriknya panas matahari untuk biaya kuliah sang anak.
Sang ibu mengontrak rumah yang lebih kecil karena ia hanya tinggal berdua dengan anaknya. Suaminya telah "pergi" terlebih dahulu. Praktis setelah sang suami pergi, sang ibu yang menjadi kepala keluarga yang bertangung jawab membesarkan anak semata wayangnya. Tidak hanya membesarkan, papar sang ibu, tetapi juga menyekolahkan sehingga berhasil, berhasil menjadi orang yang berguna dan tentu saja menjadi anak yang sholeha..paparnya kemudian.
Alhamdulillah, kini sang anak telah berhasil, dan sang anak membalas jasa sang ibu dengan mempersembahkan sebuah rumah yang cukup besar dan menaikan haji sang bunda.
Namun balas jasa sang anak tak akan mampu membayar pengorbanan sang ibu yang tidak saja dalam bentuk materi tetapi juga kasih sayang, cucuran keringat dan air mata. Rasanya itu yang pantas memaparkan hadits :
"Surga berada di bawah telapak kaum ibu. Barangsiapa dikehendakinya maka dimasukannya, dan barangsiapa dikehendaki maka dikeluarkan darinya." (HR. Ibnu Adi)
Marah, sudah barang tentu akan ada dalam masa mengasuh buah hati. Marah, ngomel kepada anak-anaknya bahkan terkadang terimbas pada sang suami. Marah adalah perasaan yang diungkapkan oleh si Ibu karena rasa sayangnya kepada buah hati.
Marah karena anak yang ga mau makan seharian, marah karena anak-anaknya ga mau nurut apa kata sang bunda.
Setelah besar seperti saat sekarang ini, penulis baru menyadari bahwa larangan, marahnya bunda kepada penulis karena memang hal tersebut merupakan bentuk kasih sayang bunda kepada penulis. Bunda marah karena penulis tidak sarapan pagi, padahal penulis ada sakit maag. pantas rasanya bunda marah, karena kalau anak sakit yang repot adalah bunda (orangtua), yang tidak tidur adalah bunda.
Bunda....betapapun kami telah mencoba balas jasa kepada-mu, namun apa yang kami buat terhadap mu tidak akan mampu membalas jasa-jasamu yang telah memberikan yang terbaik untuk nnak-Anak-mu
Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Buraidah dari bapaknya bahwa ada seorang lelaki yang sedang thawaf sambil menggendong ibunya, lalu dia bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: " Apakah dengan ini saya sudah menunaikan haknya?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Belum! Walaupun secuil".
Selamat hari ibu......
Bagi seluruh ibu-ibu di dunia....pengorbana nmu sungguh tak ternilai....
wassalam
Tak ada kata yang dapat melukiskan bagaimana jasa seorang ibu yang membesarkan anak-anaknya.
Adakalanya ibu harus berperan ganda untuk menghidupi anak-anaknya. Sebagai Ibu sekaligus sebagai ayah. Namun dengan semangat yang kuat untuk membahagiakan anak-anaknya, ibu dengan ikhlas dan kebesaran hati mau memberikan yang terbaik bagi anaknya.
Rela menderita demi kebahagiaan anak-anaknya. Itulah ungkapan salah seorang ibu ketika menceritakan pengalamannya di salah satu Radio Swasta Jakarta.
Sang Ibu menuturkan, untuk membiayai sekolah anak-anaknya yang berjumlah 3 (tiga) orang, ia berjualan apa saja asal halal dan menghasilkan duit untuk biaya bulanan sang anak.
Pernah juga penulis mendengar cerita dari seorang anak yang ibunya sampai menjual rumah satu-satunya sebagai naungan mereka dari hujan dan teriknya panas matahari untuk biaya kuliah sang anak.
Sang ibu mengontrak rumah yang lebih kecil karena ia hanya tinggal berdua dengan anaknya. Suaminya telah "pergi" terlebih dahulu. Praktis setelah sang suami pergi, sang ibu yang menjadi kepala keluarga yang bertangung jawab membesarkan anak semata wayangnya. Tidak hanya membesarkan, papar sang ibu, tetapi juga menyekolahkan sehingga berhasil, berhasil menjadi orang yang berguna dan tentu saja menjadi anak yang sholeha..paparnya kemudian.
Alhamdulillah, kini sang anak telah berhasil, dan sang anak membalas jasa sang ibu dengan mempersembahkan sebuah rumah yang cukup besar dan menaikan haji sang bunda.
Namun balas jasa sang anak tak akan mampu membayar pengorbanan sang ibu yang tidak saja dalam bentuk materi tetapi juga kasih sayang, cucuran keringat dan air mata. Rasanya itu yang pantas memaparkan hadits :
"Surga berada di bawah telapak kaum ibu. Barangsiapa dikehendakinya maka dimasukannya, dan barangsiapa dikehendaki maka dikeluarkan darinya." (HR. Ibnu Adi)
Marah, sudah barang tentu akan ada dalam masa mengasuh buah hati. Marah, ngomel kepada anak-anaknya bahkan terkadang terimbas pada sang suami. Marah adalah perasaan yang diungkapkan oleh si Ibu karena rasa sayangnya kepada buah hati.
Marah karena anak yang ga mau makan seharian, marah karena anak-anaknya ga mau nurut apa kata sang bunda.
Setelah besar seperti saat sekarang ini, penulis baru menyadari bahwa larangan, marahnya bunda kepada penulis karena memang hal tersebut merupakan bentuk kasih sayang bunda kepada penulis. Bunda marah karena penulis tidak sarapan pagi, padahal penulis ada sakit maag. pantas rasanya bunda marah, karena kalau anak sakit yang repot adalah bunda (orangtua), yang tidak tidur adalah bunda.
Bunda....betapapun kami telah mencoba balas jasa kepada-mu, namun apa yang kami buat terhadap mu tidak akan mampu membalas jasa-jasamu yang telah memberikan yang terbaik untuk nnak-Anak-mu
Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Buraidah dari bapaknya bahwa ada seorang lelaki yang sedang thawaf sambil menggendong ibunya, lalu dia bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: " Apakah dengan ini saya sudah menunaikan haknya?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Belum! Walaupun secuil".
Selamat hari ibu......
Bagi seluruh ibu-ibu di dunia....pengorbana nmu sungguh tak ternilai....
wassalam
IRI TIADA HENTI
Ada seorang pemecah batu yang melihat seorang kaya. Iri dengan kekayaan orang itu, tiba-tiba ia berubah menjadi orang kaya. Ketika ia sedang bepergian dengan keretanya, ia harus memberi jalan kepada seorang pejabat. Iri dengan status pejabat itu, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang pejabat.
Ketika ia meneruskan perjalanannya, ia merasakan panas terik matahari. Iri dengan kehebatan matahari, tiba-tiba ia berubah menjadi matahari.
Ketika ia sedang bersinar terang, sebuah awan hitam menyelimutinya. Iri dengan selubung awan, tiba-tiba ia berubah menjadi awan. Ketika ia sedang berarak di langit, angin menyapunya. Iri dengan kekuatan angin, tiba-tiba ia berubah menjadi angin.
Ketika ia sedang berhembus, ia tak kuasa menembus gunung. Iri dengan kegagahan gunung, tiba-tiba ia berubah menjadi gunung. Ketika ia sedang bertengger, ia melihat ada orang yang memecahnya. Iri dengan orang itu, tiba-tiba ia terbangun sebagai pemecah batu. Ternyata itu semua hanya mimpi si pemecah batu.
***
Karena kita semua saling terkait dan saling tergantung, tidak ada yang betul-betul lebih tinggi atau lebih rendah. Kehidupan ini baik-baik saja kok... sampai Anda mulai membanding-bandingkan.
Kata Sang Guru: "Rasa berkecukupan adalah kekayaaan terbesar." Pengejaran keuntungan, ketenaran, pujian, dan kesenangan bersifat tiada akhir karena roda kehidupan terus berputar, silih berganti dengan kerugian, ketidaktenaran, celaan, dan penderitaan. Inilah delapan kondisi duniawi yang senantiasa mengombang-ambingkan kita sepanjang hidup.
Kebahagiaan terletak pada kemampuan untuk mengembangkan pikiran dengan seimbang, tidak melekat terhadap delapan kondisi duniawi.
Boleh-boleh saja kita menjadi kaya dan terkenal, namun orang bijaksana akan hidup tanpa kemelekatan terhadap delapan kondisi duniawi. (unknown)
~ Keep Amar Ma'ruf Nahi Munkar on the Net, euy! ~
--
Official Website : http://www.sobat-azzam.info
Ketika ia meneruskan perjalanannya, ia merasakan panas terik matahari. Iri dengan kehebatan matahari, tiba-tiba ia berubah menjadi matahari.
Ketika ia sedang bersinar terang, sebuah awan hitam menyelimutinya. Iri dengan selubung awan, tiba-tiba ia berubah menjadi awan. Ketika ia sedang berarak di langit, angin menyapunya. Iri dengan kekuatan angin, tiba-tiba ia berubah menjadi angin.
Ketika ia sedang berhembus, ia tak kuasa menembus gunung. Iri dengan kegagahan gunung, tiba-tiba ia berubah menjadi gunung. Ketika ia sedang bertengger, ia melihat ada orang yang memecahnya. Iri dengan orang itu, tiba-tiba ia terbangun sebagai pemecah batu. Ternyata itu semua hanya mimpi si pemecah batu.
***
Karena kita semua saling terkait dan saling tergantung, tidak ada yang betul-betul lebih tinggi atau lebih rendah. Kehidupan ini baik-baik saja kok... sampai Anda mulai membanding-bandingkan.
Kata Sang Guru: "Rasa berkecukupan adalah kekayaaan terbesar." Pengejaran keuntungan, ketenaran, pujian, dan kesenangan bersifat tiada akhir karena roda kehidupan terus berputar, silih berganti dengan kerugian, ketidaktenaran, celaan, dan penderitaan. Inilah delapan kondisi duniawi yang senantiasa mengombang-ambingkan kita sepanjang hidup.
Kebahagiaan terletak pada kemampuan untuk mengembangkan pikiran dengan seimbang, tidak melekat terhadap delapan kondisi duniawi.
Boleh-boleh saja kita menjadi kaya dan terkenal, namun orang bijaksana akan hidup tanpa kemelekatan terhadap delapan kondisi duniawi. (unknown)
~ Keep Amar Ma'ruf Nahi Munkar on the Net, euy! ~
--
Official Website : http://www.sobat-azzam.info
SETETES EMBUN
Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita.
Tanpa mereka , hati, pikiran, perasaan lelaki akan resah.
Masih mencari walaupun sudah ada segala-galanya.
Apalagi yang tidak ada di surga, namun Nabi Adam a.s tetap merindukan Siti Hawa.
Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, istri, atau puteri.
Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau sendiri yang tidak lurus, tidak mungkin mampu hendak meluruskan mereka.
Tak logis kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus.
Luruskanlah mereka dengan petunjuk Allah, karena mereka diciptakan begitu rupa oleh-Nya.
Didiklah mereka dengan panduan dari-Nya:
Jangan coba jinakkan mereka dengan harta, nanti mereka semakin liar...
Jangan hibur mereka dengan kecantikan, nanti mereka semakin menderita...
Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan mesalah...
Kenalkan mereka kepada Allah, Dzat yang kekal, di situlah kuncinya
Akal setipis rambutnya, tebalkan ia dengan ilmu....
Hati yang serapuh kaca, tebalkan ia dengan iman....
Perasaan yang selembut sutera, hiasilah ia dengan akhlak....
Suburkanlah, karena dari situlah nanti mereka akan nampak penilaian dan keadilan Tuhan.
Akan terhibur dan berbahagialah mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana menteri ataupun women gladiator.
Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan.
Itu bukan diskriminasi Tuhan.
Sebaliknya di situlah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki2 wajah: negarawan, karyawan, jutawan dan wan-wan lain
Tidak akan lahir superman tanpa superwoman.
Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan.
Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka pula membengkokkan.
Lebih banyak lelaki yang dirusakkan oleh kaum perempuan...daripada perempuan yang dirusak oleh laki-laki...
Sebodoh-bodoh perempuanpun bisa menundukkan sepandai-pandainya lelaki.
Itulah akibat apabila wanita tidak kenal Tuhan.
Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki.
Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan secretary, bahkan anakpun akan kehilangan ibu, suami kehilangan istri dan bapak akan kehilangan puteri .
Bila wanita durhaka dunia akan huru-hara.
Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa.
Para lelaki pula jangan hanya mengharap ketaatan tetapi binalah kepemimpinan.
Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah, pimpinlah diri sendiri dahulu kepada-Nya.
Jinakkan diri dengan Allah, niscaya jinaklah segala-galanya dibawah pimpinan kita.
Jangan mengharap istri seperti Siti Fatimah, Kalau pribadi belum lagi seperti Sayidina Ali.
Sumber: Daarut-Tauhid
~ Keep Amar Ma'ruf Nahi Munkar on the Net, euy! ~
--
Official Website : http://www.sobat-azzam.info
Tanpa mereka , hati, pikiran, perasaan lelaki akan resah.
Masih mencari walaupun sudah ada segala-galanya.
Apalagi yang tidak ada di surga, namun Nabi Adam a.s tetap merindukan Siti Hawa.
Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, istri, atau puteri.
Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau sendiri yang tidak lurus, tidak mungkin mampu hendak meluruskan mereka.
Tak logis kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus.
Luruskanlah mereka dengan petunjuk Allah, karena mereka diciptakan begitu rupa oleh-Nya.
Didiklah mereka dengan panduan dari-Nya:
Jangan coba jinakkan mereka dengan harta, nanti mereka semakin liar...
Jangan hibur mereka dengan kecantikan, nanti mereka semakin menderita...
Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan mesalah...
Kenalkan mereka kepada Allah, Dzat yang kekal, di situlah kuncinya
Akal setipis rambutnya, tebalkan ia dengan ilmu....
Hati yang serapuh kaca, tebalkan ia dengan iman....
Perasaan yang selembut sutera, hiasilah ia dengan akhlak....
Suburkanlah, karena dari situlah nanti mereka akan nampak penilaian dan keadilan Tuhan.
Akan terhibur dan berbahagialah mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana menteri ataupun women gladiator.
Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan.
Itu bukan diskriminasi Tuhan.
Sebaliknya di situlah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki2 wajah: negarawan, karyawan, jutawan dan wan-wan lain
Tidak akan lahir superman tanpa superwoman.
Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan.
Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka pula membengkokkan.
Lebih banyak lelaki yang dirusakkan oleh kaum perempuan...daripada perempuan yang dirusak oleh laki-laki...
Sebodoh-bodoh perempuanpun bisa menundukkan sepandai-pandainya lelaki.
Itulah akibat apabila wanita tidak kenal Tuhan.
Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki.
Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan secretary, bahkan anakpun akan kehilangan ibu, suami kehilangan istri dan bapak akan kehilangan puteri .
Bila wanita durhaka dunia akan huru-hara.
Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa.
Para lelaki pula jangan hanya mengharap ketaatan tetapi binalah kepemimpinan.
Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah, pimpinlah diri sendiri dahulu kepada-Nya.
Jinakkan diri dengan Allah, niscaya jinaklah segala-galanya dibawah pimpinan kita.
Jangan mengharap istri seperti Siti Fatimah, Kalau pribadi belum lagi seperti Sayidina Ali.
Sumber: Daarut-Tauhid
~ Keep Amar Ma'ruf Nahi Munkar on the Net, euy! ~
--
Official Website : http://www.sobat-azzam.info
BERSIHKAN HATI
Puncak kesuksesan seseorang itu alat ukurnya adalah bisa berjumpanya dengan Allah. Ingatlah, "(yaitu) hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan qolbun saliim (hati yang bersih)." (QS Asy Syu'araa' [26]: 88-89).
Firman-Nya, "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikian jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (QS Asy Syams [91]: 7-9)
Karenanya pembahasan dalam 7B (kiat meraih sukses) yang meliputi beribadah dengan benar, berakhlak baik, belajar tiada henti, bekerja keras dengan cerdas, bersahaja dalam hidup, dan bantu sesama, semuanya ini baru akan diterima oleh Allah sebagai amal bila dilakukan dengan ikhlas, buah dari hati yang selalu bersih.
Maka kunci sukses ada pada kegigihan menjaga kebeningan hati agar sekecil apapun amal kita bisa diterima oleh Allah. Allah Yang Maha Mengetahui tidak akan menerima amal kecuali amal yang ikhlas. Amal besar tetap tertolak jika tak ikhlas.
Hati bisa kotor baik saat sebelum beramal, sedang beramal atau setelah beramal. Kotor hati sebelum beramal yaitu niat yang sering salah. Misalnya, kita bersedekah, tapi niatnya ingin disebut dermawan, takut disangka pelit, atau supaya tidak diganggu.
Kotor hati ketika sedang beramal yaitu riya (pamer, ingin dilihat). Misalnya, kita ingin dilihat orang saat sedekah ratusan ribu, ingin diketahui orang jika mengeluarkan zakat dalam jumlah besar. Padahal berzakat itu bukan sebuah prestasi karena zakat adalah kewajiban, jika tak menunaikan berarti berdosa.
Kotor hati setelah beramal yaitu pertama, menceritakan amal, misalnya menceritakan jumlah sedekah. Menceritakan kebaikan boleh saja, tapi Allah Mahatahu niat di balik setiap cerita, apakah niatnya mengajak orang lain sedekah atau ingin disebut ahli sedekah. Atau, menceritakan tentang seringnya kita beribadah haji. Kalau niatnya memotivasi orang yang lain, mudah-mudahan menjadi amal kebaikan, tapi kalau sekadar untuk pamer, bisa jadi kita justru lebih buruk dari orang yang belum beribadah haji.
Kedua, takabur yaitu merasa diri bisa berbuat, merasa lebih dengan merendahkan orang lain. Misalnya kita merasa berjasa lantaran menyekolahkan, memberi pekerjaan, atau mengajari seseorang. Padahal hakikatnya Allahlah yang berbuat, kita hanyalah dijadikan jalan pertolongan bagi hamba-hamba-Nya.
Ketiga, ujub yaitu merasa diri berbeda dari yang lain, mungkin tidak berbicara/menceritakan, tapi hati kecilnya merasa lebih dari yang lain. Misalnya, kita rajin membaca Alquran, shaum atau tahajud, tapi ketika melihat ada orang yang jarang membaca Alquran, shaum atau tahajud, hati kecil kita meremehkannya dan kita merasa paling shalih. Padahal hanya Allah Yang Mahatahu siapa yang lebih ikhlas dalam beramal di antara hamba-hamba-Nya. Karenanya kita tak cukup bisa beramal, kita juga harus menjaga penyakit hati di awal, di tengah, maupun akhir amal-amal kita.
Ketika hati kita bersih, orang menghargai kita insya Allah karena kemuliaan pribadi kita, tetapi yang terpenting adalah hati yang bersih akan membuat amal kita diterima-Nya dan Allah berkenan menjamu kita di akhirat kelak. Tiada kesuksesan kecuali orang yang berhasil berjumpa dengan Allah, buah dari qolbun saliim, hati yang selamat, yang bersih dari kebusukan.
Ya Allah, ampuni seluruh dosa-dosa kami, hapuskan sekelam apapun kesalahan kami, hapuskan sekotor apapun aib-aib kami. Ya Allah bersihkan diri kami dari segala kesombongan dan sifat riya kami selama ini. Ampuni jikalau Engkau menyaksikan kami ujub. Juga ampuni segala kedengkian dan kebencian kami terhadap apapun dan siapa pun yang Engkau cintai.
Ya Allah, bersihkan hati kami sebersih-bersihnya, jadikan hati ini hanya puas dengan ridha-Mu. Jadikan hati kami hati yang bening, hati yang selalu nikmat dengan apapun yang terjadi.
Ya Allah, jauhkan hati ini dari segala kebusukan hati. Berikan kepada kami kebahagiaan seperti nikmat yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih. Berikan kepada kami kesanggupan rendah hati dan kenikmatan beramal dengan tulus dan ikhlas.
Wahai Allah, hanya Engkaulah tumpuan harapan kami, kepada-Mulah kembalinya segala urusan, terimalah amal-amal kami.
stz/mqp ( KH Abdullah Gymnastiar)
~ Keep Amar Ma'ruf Nahi Munkar on the Net, euy! ~
--
Official Website : http://www.sobat-azzam.info
Firman-Nya, "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikian jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (QS Asy Syams [91]: 7-9)
Karenanya pembahasan dalam 7B (kiat meraih sukses) yang meliputi beribadah dengan benar, berakhlak baik, belajar tiada henti, bekerja keras dengan cerdas, bersahaja dalam hidup, dan bantu sesama, semuanya ini baru akan diterima oleh Allah sebagai amal bila dilakukan dengan ikhlas, buah dari hati yang selalu bersih.
Maka kunci sukses ada pada kegigihan menjaga kebeningan hati agar sekecil apapun amal kita bisa diterima oleh Allah. Allah Yang Maha Mengetahui tidak akan menerima amal kecuali amal yang ikhlas. Amal besar tetap tertolak jika tak ikhlas.
Hati bisa kotor baik saat sebelum beramal, sedang beramal atau setelah beramal. Kotor hati sebelum beramal yaitu niat yang sering salah. Misalnya, kita bersedekah, tapi niatnya ingin disebut dermawan, takut disangka pelit, atau supaya tidak diganggu.
Kotor hati ketika sedang beramal yaitu riya (pamer, ingin dilihat). Misalnya, kita ingin dilihat orang saat sedekah ratusan ribu, ingin diketahui orang jika mengeluarkan zakat dalam jumlah besar. Padahal berzakat itu bukan sebuah prestasi karena zakat adalah kewajiban, jika tak menunaikan berarti berdosa.
Kotor hati setelah beramal yaitu pertama, menceritakan amal, misalnya menceritakan jumlah sedekah. Menceritakan kebaikan boleh saja, tapi Allah Mahatahu niat di balik setiap cerita, apakah niatnya mengajak orang lain sedekah atau ingin disebut ahli sedekah. Atau, menceritakan tentang seringnya kita beribadah haji. Kalau niatnya memotivasi orang yang lain, mudah-mudahan menjadi amal kebaikan, tapi kalau sekadar untuk pamer, bisa jadi kita justru lebih buruk dari orang yang belum beribadah haji.
Kedua, takabur yaitu merasa diri bisa berbuat, merasa lebih dengan merendahkan orang lain. Misalnya kita merasa berjasa lantaran menyekolahkan, memberi pekerjaan, atau mengajari seseorang. Padahal hakikatnya Allahlah yang berbuat, kita hanyalah dijadikan jalan pertolongan bagi hamba-hamba-Nya.
Ketiga, ujub yaitu merasa diri berbeda dari yang lain, mungkin tidak berbicara/menceritakan, tapi hati kecilnya merasa lebih dari yang lain. Misalnya, kita rajin membaca Alquran, shaum atau tahajud, tapi ketika melihat ada orang yang jarang membaca Alquran, shaum atau tahajud, hati kecil kita meremehkannya dan kita merasa paling shalih. Padahal hanya Allah Yang Mahatahu siapa yang lebih ikhlas dalam beramal di antara hamba-hamba-Nya. Karenanya kita tak cukup bisa beramal, kita juga harus menjaga penyakit hati di awal, di tengah, maupun akhir amal-amal kita.
Ketika hati kita bersih, orang menghargai kita insya Allah karena kemuliaan pribadi kita, tetapi yang terpenting adalah hati yang bersih akan membuat amal kita diterima-Nya dan Allah berkenan menjamu kita di akhirat kelak. Tiada kesuksesan kecuali orang yang berhasil berjumpa dengan Allah, buah dari qolbun saliim, hati yang selamat, yang bersih dari kebusukan.
Ya Allah, ampuni seluruh dosa-dosa kami, hapuskan sekelam apapun kesalahan kami, hapuskan sekotor apapun aib-aib kami. Ya Allah bersihkan diri kami dari segala kesombongan dan sifat riya kami selama ini. Ampuni jikalau Engkau menyaksikan kami ujub. Juga ampuni segala kedengkian dan kebencian kami terhadap apapun dan siapa pun yang Engkau cintai.
Ya Allah, bersihkan hati kami sebersih-bersihnya, jadikan hati ini hanya puas dengan ridha-Mu. Jadikan hati kami hati yang bening, hati yang selalu nikmat dengan apapun yang terjadi.
Ya Allah, jauhkan hati ini dari segala kebusukan hati. Berikan kepada kami kebahagiaan seperti nikmat yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih. Berikan kepada kami kesanggupan rendah hati dan kenikmatan beramal dengan tulus dan ikhlas.
Wahai Allah, hanya Engkaulah tumpuan harapan kami, kepada-Mulah kembalinya segala urusan, terimalah amal-amal kami.
stz/mqp ( KH Abdullah Gymnastiar)
~ Keep Amar Ma'ruf Nahi Munkar on the Net, euy! ~
--
Official Website : http://www.sobat-azzam.info
TELAGA CERMIN
Suatu ketika di sebuah sabana, berkumpullah kelompok harimau. Di kelompok itu, juga tinggal beberapa harimau muda yang baru mulai belajar berburu. Ada seekor harimau muda yang terlihat menjauh dari kelompok itu. Dia ingin mencari tantangan.
Kaki-kaki mudanya melintasi rumput-rumput yang belum terjamah. Matanya terlihat waspada mengawasi sekitarnya. Tanpa disadari, kakinya menuju sebuah telaga yang menjorok ke dalam. Airnya begitu bening, memantulkan apa saja yang terlihat di atasnya. Sang harimau muda terkejut, ketika dilihatnya ada seekor harimau lain di sana. "Hei...ada harimau lain yang tinggal di dalam air."
Kucing besar itu masih tertegun ketika melihat harimau di telaga itu selalu mengikuti setiap gerak-geriknya. Ketika dia mundur menjauh, harimau dalam telaga itu pun ikut menghilang. Sesaat kemudian, harimau itu menyembulkan kepalanya, oh, ternyata harimau telaga itu masih ada. Dipasangnya senyum persahabatan, dan ada balasan senyum dari arah telaga. "Akan kuberitahu yang lain. Ada seekor harimau baik hati yang tinggal di tempat ini."
Kabar tentang harimau dalam telaga itu pun segera diberitahukannya. Ada seekor harimau lain yang tertarik, dan ingin membuktikan cerita itu. Setelah beberapa saat, sampailah dia di telaga itu. Dengan berhati-hati, hewan belang itu memperhatikan sekeliling. Ups.. kakinya hampir terperosok ke dalam telaga. Dia terlihat mengaum, seraya menyembulkan kepalanya ke arah lubang telaga. "Hei...ada harimau yang sedang marah di dalam sana," begitu pikirnya dalam hati. Harimau itu kembali menyeringai, memamerkan seluruh taring miliknya. Dia menunjukkan muka marah. Ohho, ternyata harimau dalam telaga pun tak kalah, dan melakukan tindakan serupa.
"Ah, temanku tadi pasti berbohong." Tak ada harimau baik dalam telaga itu. Aku hampir saja dimakannya. Lihat, wajahnya saja terlihat marah, dan selalu menggeram. Aku tak mau berteman dengan harimau dalam telaga itu." Harimau yang masih marah itu segera bergegas pergi. Rupanya ia tidak menyadari bahwa harimau dalam telaga itu, sesungguhnya adalah pantulan dari dirinya.
***
Pandangan orang lain, sama halnya dengan cermin dan telaga, adalah pantulan dari sikap kita terhadap mereka. Dugaan dan sangkaan yang kerap muncul, bisa jadi adalah refleksi dari perlakuan kita terhadap mereka. Baik dan buruknya suatu tanggapan, tak lain merupakan balasan dari diri kita sendiri. Layaknya cermin dan air telaga, semuanya akan memantulkan bayangan yang serupa. Tak kurang dan tak lebih.
Agaknya kita perlu mencari sebuah cermin besar untuk berkaca. Menatap seluruh wajah kita, dan mengatakan kepada orang di dalam cermin itu. Tataplah dalam-dalam, seakan ingin menyelami seluruh wajah itu dan berkata, "Sudahkah saya menemukan wajah yang bersahabat di dalam sana?" Teman, cobalah menatap wajah kita dalam-dalam, dan cobalah jujur menjawabnya, "Sudahkah kutemukan wajah yang bersahabat di dalamnya?" (echa)
~ Keep Amar Ma'ruf Nahi Munkar on the Net, euy! ~
--
Official Website : http://www.sobat-azzam.info
Kaki-kaki mudanya melintasi rumput-rumput yang belum terjamah. Matanya terlihat waspada mengawasi sekitarnya. Tanpa disadari, kakinya menuju sebuah telaga yang menjorok ke dalam. Airnya begitu bening, memantulkan apa saja yang terlihat di atasnya. Sang harimau muda terkejut, ketika dilihatnya ada seekor harimau lain di sana. "Hei...ada harimau lain yang tinggal di dalam air."
Kucing besar itu masih tertegun ketika melihat harimau di telaga itu selalu mengikuti setiap gerak-geriknya. Ketika dia mundur menjauh, harimau dalam telaga itu pun ikut menghilang. Sesaat kemudian, harimau itu menyembulkan kepalanya, oh, ternyata harimau telaga itu masih ada. Dipasangnya senyum persahabatan, dan ada balasan senyum dari arah telaga. "Akan kuberitahu yang lain. Ada seekor harimau baik hati yang tinggal di tempat ini."
Kabar tentang harimau dalam telaga itu pun segera diberitahukannya. Ada seekor harimau lain yang tertarik, dan ingin membuktikan cerita itu. Setelah beberapa saat, sampailah dia di telaga itu. Dengan berhati-hati, hewan belang itu memperhatikan sekeliling. Ups.. kakinya hampir terperosok ke dalam telaga. Dia terlihat mengaum, seraya menyembulkan kepalanya ke arah lubang telaga. "Hei...ada harimau yang sedang marah di dalam sana," begitu pikirnya dalam hati. Harimau itu kembali menyeringai, memamerkan seluruh taring miliknya. Dia menunjukkan muka marah. Ohho, ternyata harimau dalam telaga pun tak kalah, dan melakukan tindakan serupa.
"Ah, temanku tadi pasti berbohong." Tak ada harimau baik dalam telaga itu. Aku hampir saja dimakannya. Lihat, wajahnya saja terlihat marah, dan selalu menggeram. Aku tak mau berteman dengan harimau dalam telaga itu." Harimau yang masih marah itu segera bergegas pergi. Rupanya ia tidak menyadari bahwa harimau dalam telaga itu, sesungguhnya adalah pantulan dari dirinya.
***
Pandangan orang lain, sama halnya dengan cermin dan telaga, adalah pantulan dari sikap kita terhadap mereka. Dugaan dan sangkaan yang kerap muncul, bisa jadi adalah refleksi dari perlakuan kita terhadap mereka. Baik dan buruknya suatu tanggapan, tak lain merupakan balasan dari diri kita sendiri. Layaknya cermin dan air telaga, semuanya akan memantulkan bayangan yang serupa. Tak kurang dan tak lebih.
Agaknya kita perlu mencari sebuah cermin besar untuk berkaca. Menatap seluruh wajah kita, dan mengatakan kepada orang di dalam cermin itu. Tataplah dalam-dalam, seakan ingin menyelami seluruh wajah itu dan berkata, "Sudahkah saya menemukan wajah yang bersahabat di dalam sana?" Teman, cobalah menatap wajah kita dalam-dalam, dan cobalah jujur menjawabnya, "Sudahkah kutemukan wajah yang bersahabat di dalamnya?" (echa)
~ Keep Amar Ma'ruf Nahi Munkar on the Net, euy! ~
--
Official Website : http://www.sobat-azzam.info
PERKAWINAN & PERNIKAHAN
Sebuah karya yang sesuai untuk semua..
bagi yang bujang, boleh mengambil I'tibar..
bagi yang belum dan bakal berkeluarga, boleh belajar, bagi yang berkeluarga, perlu mengajar..
Untuk suami.. renungkanlah...
Pernikahan atau perkahwinan menyingkap tabir rahsia.
Isteri yang kamu nikahi tidaklah semulia Khadijah tidaklah setaqwa Aisyah pun tidak setabah Fatimah..
Justeru isterimu hanyalah wanita akhir zaman yang punya cita-cita menjadi solehah...
Pernikahan atau perkahwinan mengajar kita kewajiban bersama
Isteri menjadi tanah kamu langit penaungnya..
Isteri ladang tanaman kamu pemagarnya..
Isteri kiasan ternakan kamu gembalanya.
Isteri adalah murid kamu mursyidnya .
Isteri bagaikan anak kecil kamu tempat bermanjanya.
Saat isteri menjadi madu kamu teguklah sepuasnya..
Seketika isteri menjadi racun kamulah penawar bisanya Seandainya
isteri tulang yang bengkok berhatilah meluruskannya..
Pernikahan atau perkawinan menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa..
Untuk belajar meniti sabar dan redha Allah swt. kerana memiliki isteri yang tak sehebat mana
Justeru kamu akan tersentak dari alpa Kamu bukanlah Rasulullah S.A.W..
Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamallahhuwajhah
Cuma suami akhir zaman yang berusaha menjadi soleh... amin..
Untuk isteri.. renungkanlah...
Pernikahan atau perkahwinan membuka tabir rahsia.
Suami yang menikahi kamu tidaklah semulia Muhammad S.A.W..
Tidaklah setaqwa Ibrahim Alaihissalam..
Pun tidak setabah Ayyub atau pun
Segagah Musa.. apalagi setampan Yusuf.
Justeru suamimu hanyalah lelaki akhir zaman yang punya cita cita membangun keturunan yang soleh...
Pernikahan atau perkahwinan mengajar kita kewajiban bersama
Suami menjadi pelindung kamu penghuninya
Suami adalah nahkoda kapal kamu pengemudinya
Suami bagaikan pelakon yang nakal kamu adalah penonton kenakalannya
Saat suami menjadi raja kamu nikmati anggur singgahsananya
Seketika suami menjadi bisa kamulah penawar ubatnya
Seandainya suami bengis lagi lancang sabarlah memperingatkannya..
Pernikahan ataupun perkahwinan mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa.
Untuk belajar meniti sabar dan redha Allah swt
Kerana memiliki suami yang tak segagah mana..
Justeru kamu akan tersentak dari alpa?.
Kamu bukanlah Khadijah yang begitu sempurna di dalam menjaga..
Pun bukanlah Hajar yang begitu setia dalam sengsara ..
Cuma wanita akhir zaman yang berusaha menjadi solehah... amin...
Justeru itu wahai para suami dan isteri.jangan menuntut terlalu tinggi seandainya diri sendiri jelas tidak berupaya
Mengapa mendambakan isteri sehebat Khadijah andai diri tidak semulia Rasulullah
Mengapa mengharapkan suami setampan Yusof seandainya kasih tak setulus Zulaikha
Tidak perlu mencari isteri secantik Balqis andai diri tidak sehebat Sulaiman danTidak perlu mencari suami seteguh Ibrahim andai diri tidak sekuat Hajar dan Sarah
Semoga Bermanfaat...
Wassalam,
Yantia
~ Keep Amar Ma'ruf Nahi Munkar on the Net, euy! ~
--
Official Website : http://www.sobat-azzam.info
bagi yang bujang, boleh mengambil I'tibar..
bagi yang belum dan bakal berkeluarga, boleh belajar, bagi yang berkeluarga, perlu mengajar..
Untuk suami.. renungkanlah...
Pernikahan atau perkahwinan menyingkap tabir rahsia.
Isteri yang kamu nikahi tidaklah semulia Khadijah tidaklah setaqwa Aisyah pun tidak setabah Fatimah..
Justeru isterimu hanyalah wanita akhir zaman yang punya cita-cita menjadi solehah...
Pernikahan atau perkahwinan mengajar kita kewajiban bersama
Isteri menjadi tanah kamu langit penaungnya..
Isteri ladang tanaman kamu pemagarnya..
Isteri kiasan ternakan kamu gembalanya.
Isteri adalah murid kamu mursyidnya .
Isteri bagaikan anak kecil kamu tempat bermanjanya.
Saat isteri menjadi madu kamu teguklah sepuasnya..
Seketika isteri menjadi racun kamulah penawar bisanya Seandainya
isteri tulang yang bengkok berhatilah meluruskannya..
Pernikahan atau perkawinan menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa..
Untuk belajar meniti sabar dan redha Allah swt. kerana memiliki isteri yang tak sehebat mana
Justeru kamu akan tersentak dari alpa Kamu bukanlah Rasulullah S.A.W..
Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamallahhuwajhah
Cuma suami akhir zaman yang berusaha menjadi soleh... amin..
Untuk isteri.. renungkanlah...
Pernikahan atau perkahwinan membuka tabir rahsia.
Suami yang menikahi kamu tidaklah semulia Muhammad S.A.W..
Tidaklah setaqwa Ibrahim Alaihissalam..
Pun tidak setabah Ayyub atau pun
Segagah Musa.. apalagi setampan Yusuf.
Justeru suamimu hanyalah lelaki akhir zaman yang punya cita cita membangun keturunan yang soleh...
Pernikahan atau perkahwinan mengajar kita kewajiban bersama
Suami menjadi pelindung kamu penghuninya
Suami adalah nahkoda kapal kamu pengemudinya
Suami bagaikan pelakon yang nakal kamu adalah penonton kenakalannya
Saat suami menjadi raja kamu nikmati anggur singgahsananya
Seketika suami menjadi bisa kamulah penawar ubatnya
Seandainya suami bengis lagi lancang sabarlah memperingatkannya..
Pernikahan ataupun perkahwinan mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa.
Untuk belajar meniti sabar dan redha Allah swt
Kerana memiliki suami yang tak segagah mana..
Justeru kamu akan tersentak dari alpa?.
Kamu bukanlah Khadijah yang begitu sempurna di dalam menjaga..
Pun bukanlah Hajar yang begitu setia dalam sengsara ..
Cuma wanita akhir zaman yang berusaha menjadi solehah... amin...
Justeru itu wahai para suami dan isteri.jangan menuntut terlalu tinggi seandainya diri sendiri jelas tidak berupaya
Mengapa mendambakan isteri sehebat Khadijah andai diri tidak semulia Rasulullah
Mengapa mengharapkan suami setampan Yusof seandainya kasih tak setulus Zulaikha
Tidak perlu mencari isteri secantik Balqis andai diri tidak sehebat Sulaiman danTidak perlu mencari suami seteguh Ibrahim andai diri tidak sekuat Hajar dan Sarah
Semoga Bermanfaat...
Wassalam,
Yantia
~ Keep Amar Ma'ruf Nahi Munkar on the Net, euy! ~
--
Official Website : http://www.sobat-azzam.info
Langganan:
Komentar (Atom)
